,
Tampilkan postingan dengan label Riwayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riwayat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 November 2012

Bai Fang Li, Tukang Becak Berhati Mulia



Namanya BAI FANG LI. Dia adalah seorang tukang becak (rickshaw) di kota Tianjin, China. Di sepanjang hidupnya, ia mencari nafkah dengan mengayuh becak, memberi pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan transportasi murah dari satu tempat ke tempat lain.

Tubuhnya kecil, bahkan terlalu kecil dibandingkan dengan sesama tukang becak lainnya. Namun, ia sangat energik dan antusias. Setiap hari dia memulai rutinitasnya pada pukul 6 pagi, mengelilingi kota dengan becaknya untuk mencari penumpang atau mengantar mereka ke tempat tujuannya. Dia bekerja sepanjang hari, Bai Fang Li jarang pulang sebelum pukul 8 malam.

Semua pelanggan menyukai Bai Fang Li karena ia ramah dan murah senyum. Dia tidak pernah menentukan biaya yang harus dibayar oleh pelanggannya, tapi dia bergantung pada kemurahan hati para pelanggan untuk membayar jasanya. Karena hati yang baik, orang-orang lebih memilih untuk menggunakan jasanya lebih dari yang lain. Banyak dari mereka yang bersedia untuk membayar lebih daripada tarif  biasanya. Mungkin juga ini karena mereka melihat betapa keras ia, dengan tubuh kecilnya, harus mengayuh becak dengan susah payah sampai napasnya terasa berat.

bai fang li at home

Bai Fang Li tinggal di sebuah gubuk tua reyot di daerah kumuh di kota Tianjin. Di dalam gubuk itu hanya ada satu ruangan dimana ia harus menyewa dan berbagi tempat bersama beberapa orang lainnya. Praktis tidak ada perabotan sama sekali di dalam gubuknya, kecuali sepotong karpet tua yang dipakainya untuk tidur setelah seharian bekerja menarik becak. Di ruangan ini juga, ia hanya memiliki sebuah kotak kardus tua tempat ia menyimpan selimut tua miliknya yang sudah lusuh dan penuh jahitan. Ada juga piring dan cangkir kaleng, yang ditemukannya di tumpukan sampah di sekitar gubuk, yang dipakainya untuk makan dan minum. Di sudut pondok, ada sebuah lampu minyak untuk memberikan penerangan di malam hari.

Bai Fang Li tidak memiliki keluarga atau kerabat di kota tempat tinggalnya. Orang-orang hanya tahu bahwa ia datang dari kota lain. Namun, ia tidak pernah merasa kesepian karena selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menyukainya. Mereka mencintainya karena sikap positif dan kemurahan hatinya. Dia membantu orang yang membutuhkan bantuan, dan melakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Dari penghasilannya sebagai tukang becak yang meskipun tidak seberapa, seharusnya ia mampu membeli makanan dan pakaian yang lebih baik. Namun, ia malah menyumbangkan sebagian besar penghasilannya untuk sebuah panti asuhan di Tianjin yang menangani lebih dari 300 anak yatim piatu. Juga untuk  sekolah yang dikelola oleh panti asuhan tersebut .

Sebuah insiden yang mengubah cara hidupnya

Bai Fang Li mulai menyumbang untuk panti asuhan pada tahun 1986, yaitu di saat usianya mencapai 74 tahun. Ini adalah kisah bagaimana hatinya tersentuh dan bagaimana ia membuat keputusan untuk melakukan apa yang telah ia lakukan sekarang.

Pada suatu hari Bai Fang Li sedang beristirahat sejenak setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia melihat di jalan, ada seorang anak laki-laki kurus berumur kira-kira enam tahun sedang menawarkan bantuan kepada seorang wanita untuk membawakan belanjaannya. Ia melihat anak kecil ini membawa tas belanjaan yang berat dengan susah payah, tapi juga terlihat bersemangat untuk melakukan pekerjaannya dengan baik. Ada senyum lebar terlukis di wajah anak itu ketika telah berhasil menyelesaikan tugasnya dan menerima uang sebagai imbalan  atas jasanya. Anak ini mendongak ke langit menggumamkan sesuatu seolah-olah ia sedang berdoa dan mengucap syukur atas berkat yang baru saja diterimanya. Bai menyaksikan anak itu membantu beberapa orang yang sedang berbelanja di pasar, dan setiap kali menerima pembayaran atas jasanya, ia mendongak ke langit dan menggumamkan sesuatu.

Kemudian, Bai melihat anak itu pergi ke tumpukan sampah dan menggali seolah mencari sesuatu. Ketika behasil menemukan sepotong roti kotor, anak itu terlihat begitu senang. Ia membersihkan roti itu sebaik-baiknya, lalu memakannya seolah-olah itu adalah sepotong roti yang datang dari sorga. Hati Bai sangat tersentuh dengan apa yang dilihatnya. Dia mendekati anak itu dan menawarkan untuk berbagi makan siang dengannya. Bai bertanya mengapa anak itu tidak membeli makan siang yang layak dengan uang yang diperoleh tadi. Anak itu berkata, "Saya akan menggunakan uang itu untuk membeli makanan untuk adik-adik saya." Bai bertanya, "Di mana orang tuamu?" Anak itu menjawab, "Orang tuaku sehari-hari bekerja sebagai pemulung di tempat pembuangan sampah. Namun, semenjak satu bulan yang lalu, mereka menghilang dan aku belum pernah melihat mereka lagi. Jadi, aku harus bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan juga kedua adikku.."

Bai Fang Li meminta anak itu untuk membawanya menemui saudara-saudara perempuannya. Bai menangis ketika melihat kedua gadis itu, berumur 5 dan 4 tahun. Gadis-gadis itu begitu kotor dan kurus, dan pakaian mereka sangat lusuh dan kotor. Para tetangga tidak peduli dengan kondisi ketiga anak karena mereka juga sedang berjuang untuk mengatasi masalah kehidupan mereka sendiri.

Bai Fang Li membawa ketiga anak itu ke sebuah panti asuhan di Tianjin. Dan mengatakan kepada manajer panti asuhan bahwa ia akan memberikan uang yang didapatnya ke panti asuhan untuk membantu anak-anak di sana mendapatkan makanan, perawatan dan pendidikan yang layak. Sejak itu Bai Fang Li memutuskan untuk bekerja lebih keras dan dengan tekad yang lebih dalam, mengayuh becak untuk mendapatkan uang guna membantu anak-anak di panti asuhan. Dia mulai bekerja lebih awal dan pulang terlambat untuk mendapatkan uang ekstra. Dari semua pendapatannya setiap hari, ia menyisihkan sedikit untuk membayar sewa gubuk kecilnya. Kadang-kadang untuk membeli sedikit makanan. Sisa pendapatan disumbangkannya semua ke panti asuhan untuk membantu mereka memberi makan dan merawat anak-anak.
Dia sangat senang melakukan semua hal ini meskipun dengan segala keterbatasannya. Dia justru merasa bahwa adalah sebuah kemewahan bahwa ia masih punya tempat tinggal, makanan untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, meskipun pakaian itu ia dapat dengan memulung dari tempat pembuangan sampah. Dia selalu bersyukur atas apa yang dimilikinya.

bai fang li in snow

Bai Fang Li tidak pernah libur, ia bekerja sebagai tukang becak 365 hari setahun, tanpa mempedulikan cuaca, ia tetap bekerja meskipun hawa dingin di saat turun salju atau ketika matahari bersinar sangat terik dan panas. Ketika ditanya mengapa ia bersedia mengorbankan begitu banyak, dia selalu berkata, "Saya selalu merasa menyesal bahwa saya bodoh dan tidak berpendidikan, tidak masalah kalau saya menderita, asalkan anak-anak itu memiliki sesuatu untuk dimakan dan dapat memiliki pendidikan yang layak untuk masa depannya nanti. Saya merasa bahagia dengan melakukan semua hal ini. "




Memberi Tanpa Mengharapkan Apapun

Bai Fang Li mulai memberikan sumbangan kepada panti asuhan sejak 1986. Dia tidak pernah meminta imbalan apa pun. Dia bahkan tidak tahu anak yang mana yang diuntungkan dari sumbangannya. Selama 20 tahun berikutnya, Bai Fang Li mengayuh becaknya untuk satu tujuan: memberikan sumbangan kepada anak-anak di panti asuhan untuk membantu mereka hidup dengan lebih baik. Selama 20 tahun, secara total ia telah menyumbangkan penghasilannya sebanyak RMB 350.000 (sekitar Rp 500 Juta) ke panti asuhan.

Ketika  usianya mencapai 90 tahun, ia membawa seluruh sisa tabungannya sebanyak RMB500 (sekitar Rp 750.000) ke sebuah sekolah panti asuhan bernama Yao Hua. Tidak banyak, tapi itu adalah seluruh uang yang dimilikinya.

Bai Fang Li berkata dengan sedih, "Saya sekarang sudah terlalu tua dan lemah, saya tidak kuat lagi mengayuh becak, dan tidak dapat melanjutkan memberi sumbangan. Ini mungkin adalah sumbangan terakhir saya" Semua guru dan siswa di sekolah itu tersentuh dan menangis mendengarnya.

bai fang li in hospital

Pada bulan Mei 2005, di usianya yang ke 93, Bai Fang Li di diagnosa mengidap kanker paru-paru. Ia meninggal di rumah sakit setempat empat bulan kemudian. Ratusan orang yang menghadiri pemakamannya menangis, mereka merasa sangat kehilangan ditinggalkan oleh orang tua yang baik hati itu. Ribuan orang lainnya merasa tersentuh oleh pengabdiannya yang tidak kenal pamrih. Bai Fang Li meninggal dalam keadaan miskin, ia tidak meninggalkan apapun selain semangat pengabdian dan cinta tulusnya kepada sesama. 


Source : hamba Allah

Sabtu, 17 November 2012

Sang Proklamator

Retorika jangan ditanya lagi, putra bangsa yang satu ini bisa di bilang pertama menggeparkan dunia ala indo.... udah untuk lebih jelas, nikmati kisah perjalanannya

6 JUNI 1901 Hari Kamis Pon. Windu Sanjaya. Wuku Wayang di Lawang Seketeng Surabaya, saat fajar menyingsing lahirlah jabang bayi Koesno yang kelak akan menjadi Soekarno dan pasangan Ida Ayu Nyoman Rai Sarimben, seorang putri keturunan Kasta Brahmana dan Banjar Balai Agung Singaraja Bali dengan Raden Soekemi Sosrodiharjo, Putra Raden Hardjodikromo seorang tokoh kebatinan di Tulungagung Jawa Timur. Saat kecil, Soekarno diasuh oleh Mbok Sarinah, sekaligus yang mengajarkan tentang kecintaan kepada orang tua, rakyatjelata dan sesama manusia.

1915 Tamat EUROPEESCHE LAGERE SCHOOL (ELS) di Mojokerto — Jawa Timur.

10 JUNI 1921 Pelajar Soekarno tamat dan sekolah HOGERE BURGER SCHOOL (HBS) di Surabaya. Semasa di HBS, ayahnya menitipkan Soekarno di rumah HOS. Cokroaminoto, Politikus Nasional dan Serikat Islam (SI). Di rumah inilah Soekarno dapat berkenalan dengan tokoh-tokoh Pergerakan Nasional, antara lain : Alimin, Muso, Darsono, serta mengenal dunia idea tokoh-tokoh dunia seperti Thomas Jefferson Jawaharal Nehru, Gladestone, Mahatma Gandi, Mazzini Jamaluddin Al Afgani, Moh Abduh, dIl.

25 MEl 1926 Soekarno berhasil menyelesaikan studinya di TERHNISCHE HOGE SCHOOL (THS) Bandung dengan mendapat gelar CIVIEL INGENIEUR (Insinyur Sipil).

1926 Diawali dengan pertemuan dengan seorang petani bernama Pak Marhaen di daerah Cigareleng Bandung Selatan dan melalui proses perenungan yang dalam serta serius, akhirnya Soekarno menemukan konsep Marhaen. Marhaenis, Marhaenisme sebagai teori perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia, oleh karenanya Bung Karno disebut sebagai Bapak Marhaenisme. Menulis artikel tentang Nasionallsme. Islamisme dan Marxisme” dan bersama-sama kawannya mendirikan “Algemeene Studieclub di Bandung, suatu perkumpulan yang mempelajari pergerakan politik yang didasarkan pada paham kebangsaan dan beruratnadikan rakyat jelata.

4 JULI 1927 Ir. Soekarno bersama Mr. Iskaq Tjokrohadisuryo, Dr. Sanusi Sastrowidagdo, Mr. Budiarto, Mr. Sartono, Mr. Sunaryo dan Ir. Anwari mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) yang bertujuan mencapai Indonesia Merdeka. Pada kongres PNI pertama.

27 sampai dengan 30 Mei 1928 di Surabaya, Perserikatan Nasional Indonesia berubah menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI) dan menerbitkan majalah Suluh Indonesia.

1928 Ir. Soekarno mengajarkan “Trilogi” perjuangannya yaitu: - National Geest = Kesadaran Berbangsa - National Will = Kemauan Berbangsa - National Daad = Tindakan berbangsa.

17 APRIL 1931 Bung Karno menyampaikan pledoinya di hadapan Pengadilan Kolonial Belanda setelah mengalami 19 kali persidangan selama 4 bulan. Pembelaan tersebut tetap tidak bisa membebaskan dan segala tuntutan, maka hakim Kolonial menjatuhkan hukuman 4 tahun penjara di Banceuy dan kemudian dipindahkan ke penjara Sukamiskin Bandung. Pledoi Bung Karno kemudian dibukukan dalam “Indonesia Menggugat”.

MARET 1932 Bung Karno menulis nsalah Mencapai Indonesia Merdeka” di Pengalengan selatan Kota Bandung dalam majalah Fikiran Rakyat.

1 AGUSTUS 1933 Bung Karno ditangkap oleh Polisi Kolonial Belanda di rumah Moh. Husni Thamrin di Jakarta dan dijebloskan dalam penjara Sukamiskin selama 4 bulan. 17 FEBRUARI 1934 Bung Karno dibuang ke Ende, di Pulau Flores selama 4 tahun didampingi Ibu Inggit Garnasih dan putri angkat Ratna Djuwani serta Ibu Amsi (mertua), berangkat dengan Kapal “Van Reibeeck”. Di tanah pembuangan Ende-Flores selama 4 tahun ini, Bung Karno banyak menulis artikel tentang Islam yang ditujukan kepada A. Hasan, guru ‘Persatuan Islam” di Bandung. Kemudian sebanyak 12 surat tersebut diterbitkan dengan judul “Surat-Surat Islam dari Ende”.

14 FEBRUARI 1938 Berdasarkan besluit Pemerintah Kolonial Belanda tertanggal 14 Februari 1938, pembuangan Bung Karno dipindah ke Bengkulu. Sesampai di Bengkulu. Bung Karno menjadi Ketua Pengajaran Muhamadiyah Daerah Bengkulu.

9 JULI 1942 Ketika ada tanda-tanda Jepang mendarat, rencananya Bung Karno akan dilarikan ke Padang, kemudian dibawa lagi ke Australia oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Setelah Jepang mendarat dan berhasil merebut Bung Karno, maka dikembalikan ke Jakarta tanggal 9 Juli 1942. Maka berakhirlah masa pembuangan Bung Karno oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

9 MARET 1943 Bung Karno bersama Bung Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan KH Mas Mansur memimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera) sebagai sarana taktis untuk menyusun tenaga dan kekuatan rakyat terlatih dalam merebut Kemerdekaan dari Jepang.

JUNI 1943 Bung Karno menikah dengan Fatmawati.

I JUNI 1945 Bung Karno berpidato dalam Sidang Dokuritsu Zyunbi Tjoosakai atau Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) di gedung Pejambon Jakarta. Dalam pidato tersebut, Bung Karno mengemukakan gagasan Philosofiche Gronslaag yang digali dan sosio cultural bangsa sendiri sebagat dasar Indonesia Merdeka, Sejak itu pula Bung Karno dikenal sebagai Penggali Pancasila.

8 JUNI 1945 Bung Karno dipilih sebagai Ketua Dokuritsu Zyunbi Iinkai atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Atas kewenangannya itu Bung Karno merubah anggota PPKI dan 21 orang menjadi 27 orang dengan maksud untuk ingin mengubah lembaga buatan Jepang menjadi lembaga bersifat Nasional yang mencerminkan perwakilan nusantara.

10 JULI 1945 Bung Karno memimpin sidang panitia kecil BPUPKI ke II bertempat di rumah Bung Karno untuk menyusun Konstitusi Negara Indonesia yang kemudian dikenal dengan nama Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945).

15 AGUSTUS 1945 Bung Karno dan Bung Hatta diculik oleh para pemuda yang dipimpin oleh Chaerul Saleh dan Adam Malik, dan dilarikan ke Rengasdengklok untuk didesak segera memproklamasikan Kemerdekaan Indonesta saat itu juga. Setelah terjadi perdebatan yang cukup menegangkan dan berakhir dengan persesuaian pendapat, maka Bung Karno dan Bung Hatta dikembalikan ke Jakarta.

17 AGUSTUS 1945 Bung Karno dan Bung Hatta mewakili seiuruh rakyat Indonesia memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia tepat hari Jumat Legi pukul 10.00 WIB di Gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta dan disiarkan melalui Kantor Besar Radio Domei. Bendera Merah Putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati berkibar diiringi lagu “Indonesia Raya”. Sejak hari itu Bung Karno dan Bung Hatta disebut sebagai “Proklamator Kemerdekaan Indonesia “. 18 AGUSTUS 1945 PPKI mengangkat Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden (berdasarkan Aturan Peralihan, pasal 3 UUD 1945) dan dalam melaksanakan jabatannya dibantu oleh Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP).

5 OKTOBER 1945 Dekrit Presiden untuk membentuk angkatan perang. Maka pemerintah menugaskan kepada Mayor Urip Sumohardjo untuk membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) serta mengangkat Sodanco Supriyadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat, namun tidak pernah hadir dan tidak diketahui keberadaannya.

4 JANUARI 1946 Pada akhir Desember 1945, tentara Belanda memasuki Jakarta, maka Bung Karno dan Bung Hatta secara rahasia berangkat dari Jakarta ke Jogjakarta dengan naik kereta pada malam hari (belakang rumah Bung Karno ada rel kereta api) dengan dasar pertimbangan bahwa resiko mempertahankan pusat pemerintahan terlalu besar, maka diputuskan pusat pemerintahan dipindah ke Jogjakarta. 18 SEPTEMBER 1948 Pemberontakan PKI meletus di Madiun dibawah pimpinan Muso yang ingin mendirikan Pemerintahan Komunis Sovyet di Indonesia, maka Bung Karno menyerukan kepada masyarakat melalui radio untuk memilih pemimpinnya “Soekarno — Hatta atau Muso dan PKI-nya”. Akhirnya rakyat menjatuhkan pilihannya kepada Soekarno — Hatta. Selanjutnya pada bulan Oktober 1948 Divisi Siliwangi di bawah pimpinan AH Nasution berhasil memadamkan pemberontakan dan Muso mati dalam pertempuran kecil.

19 DESEMBER 1948 Agresi Militer Belanda ke II, Jogjakarta diduduki Belanda.

22 Desember 1948 pukul 07.00, Kolonel Van Langen menangkap Bung Karno, H. Agus Salim dan Sutan Syahril dibawa ke Medan. sedangkan Bung Hatta, Mr. Moh. Roem, Mr. All Sastro Amijoyo, Mr Gafar Pringgodikdo, Mr. Assaat dan Komodor Suria Darma dilarikan ke Bangka. Dalam perjalanan dari Istana Jogjakarta sampai ke Prapat (Sumatera Utara), Bung Karno mengalami tiga kali usaha pembunuhan terhadap dirinya, yaitu: • Menurut pengakuan Kapten Vosfeiet, sopir Jeep yang diperintah oleh Jenderal Spoor, Panglima Besar tentara Belanda: “DaIam perjalanan dan Istana menuju Maguwo, Bung Karno dinaikkan jeep terbuka. tanpa borgol dan berjalan pelan”, dimaksudkan agar Bung Karno punya kesempatan melarikan diri dan akan ditembak mati. “ • Menurut pengakuan Mr Yoseph Marie Antoim Habert Luns, mantan Menten Luar Negeni Belanda dan Sekjen NATO: “Dalam perjalanan udara dari Maguwo ke Medan, Bung Karno akan dibunuh dengan cara dilemparkan dari kapal udara • Kesaksian juru masak (perempuan) para tawanan Brastagi mendapat perintah dari opsir bahwa besok pagi tidak perlu memasak untuk para tawanan, sebab besok pagi Bung Karno dan teman-temannya akan menjalani eksekusi tembak mati. Karena Belanda menganggap bahwa untuk menghancurkan Republik Indonesia harus melenyapkan Soekarno lebih dahulu. Malam harinya rakyat Brastagi menyusun gerilya untuk membebaskan Bung Karno, tapi upaya tersebut sudah diketahui oleh tentara Belanda, maka Bung Karno dibawa lari oleh Algojo Belanda menuju Prapat.

6 JULI 1949 Bung Karno dan pemimpin lainnya dikembalikan oleh Belanda ke Jogjakarta setelah melalui perjanjian ‘Roem — Royen Statements’

28 DESEMBER 1949 Bung Karno bersama rombongan kembali ke Jakarta dengan 2 pesawat Dakota (yang salah satunya merupakan sumbangan rakyat Aceh), mendarat di Kemayoran sekitar pukul 11.30 WIB. dengan diiringi bendera asli proklamasi. Rombongan menuju Istana Negara dan mulai saat itu Ibu Kota kembali ke Jakarta.

7 JULI 1953 Bung Karno menikah dengan Ibu Hartini.

18 APRIL 1955 Bung Karno menyampaikan pidato pembukaan Konferensi Asia Afrika ke I di Bandung dengan judul Asia Baru dan Afrika Baru”.

JULI 1955 Bung Karno naik Haji ke Tanah Suci.

21 FEBRUARI 1957 Pidato Presiden di Istana Negara tentang Konsepsi yang menolak demokrasi liberal karena melahirkan tirani minoritas dan mayoritas, yang dikehendaki adalah demokrasi terpimpin oleh nilai-nilai yang berakar pada masyarakat Indonesia. Ekses dan sikap politik tersebut, dan kelompok reaksioner mengadakan upaya pembunuhan terhadap Bung Karno dengan cara penembakan di Hari Raya Idul Adha dan geranat meledak di Cikini.

30 SEPTEMBER 1960 Bung Karno pidato di depan Sidang Umum PBB di New York — Amerika Serikat dalam judul “To Build The World A New” yang menawarkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar piagam PBB.

19 DESEMBER 1961 Presiden Soekarno memberikan Komando Pembebasan lrian Barat yang dikenal dengan nama “Tri Komando Rakyat” (Trikora) pada rapat umum di Jogjakarta yang berisikan: 1. Gagalkan pembentukan Negara “Papua” bikinan Kolonial Belanda. 2. Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat 3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum. Atas komando tersebut, wilayah Irian Barat yang mempunyai luas beberapa kali Pulau Jawa dalam waktu 1 tahun, 4 bulan, 13 hari sudah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

3 MARET 1962 Menikah dengan Ratna Sari Dewi, (Naoko Nemoto).

3 MEI 1964 Komando Dwi Kora.

11 MARET 1966 Presiden Soekarno memberikan perintah (Supersemar) kepada menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jendral Soeharto untuk: 1. Mengambil segera tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan kewibawaan pimpinan, Presiden /Panglima Tertinggi /Pimpinan Besar Revolusi /Mandataris MPR, untuk keutuhan bangsa dan negara Republik Indonesia dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi. 2. Mengadakan koordinasi pelaksanaan pemerintah dengan Panglima Angkatan lainnya dengan sebaik-baiknya. 3. Supaya melaporkan segala sesuatu yang bersangkut paut dalam tugas dan tanggung jawab seperti tersebut di atas.

7 MARET 1967 Kekuasaan Pemerintahan Bung Karno dipreteli oleh Tap. MPRS No. XXXIII / MPRS / 1967, secara hukum TAP tersebut mempunyat kelemahan yang serius, karena seseorang yang belum atau ttdak terbukti kesalahannya tetapi hak-haknya dicabut dan tidak dikembalikan. Ironis, seorang Bapak yang menghabiskan waktunya dan mempertaruhkan seluruh hidupnya bagi kemerdekaan bangsanya, harus mengakhiri hidupnya di Tahanan Negara oleh bangsanya sendiri.

21 JUNI 1970 Han Minggu Pahing pukul 19.00 Bung Karno menghembuskan nafasnya yang terakhir di RS Gatot Subroto, setelah sekian lama mendenita sakit dan dikarantina di Wisma Yaso. “Innalillahi Wainna Illaihi Roji’un”. Telah pulang Bapak Bangsa Indonesia ke Rahmatullah dan kini tugas kita semua menjaga negeri ini selama-lamanya.